Pemerintahan Sultan Agung pada masa Kerajaan Mataram Islam


Sutawijaya merupakan raja pertama yang bergelar Panembahan Senopati ing Alaga Sayidin Panatagama. Pusat Kerajaan Mataram ada di Kota Gede, sebelah tenggara Kota Yogyakarta sekarang. Panembahan Senopati digantikan oleh putranya yang bernama Mas Jolang (1601-1613). Mas Jolang kemudian digantikan oleh putranya yang bernama mas Rangsang yang kemudian lebih dikenal dengan nama Sultan Agung (1613-1645). Pada masa pemerintahan Sultan Agung, Kerajaan Mataram mengalami puncak kejayaan. 

Sultan Agung berhasil memperluas wilayah Mataram ke berbagai daerah. Disamping berusaha menguasai dan mempersatukan berbagai wilayah di Jawa, Sultan Agung juga ingin mengusir VOC dari Kepulauan Indonesia. Kemudian diadakan dua kali serangan tentara Mataram ke Batavia tahun 1628 dan 1629. 

Mataram berkembang menjadi negara agraris. Dalam bidang pertanian, Mataram mengembangkan daerah-daerah persawahan yang luas. Pulau Jawa bagian tengah adalah daerah pertanian yang subur dengan hasil utamanya adalah beras. Jawa benar-benar menjadi lumbung padi. Hasil-hasil lain adalah kayu, gula, kelapa, kapas, dan hasil palawija. 

Di Mataram dikenal beberapa kelompok dalam masyarakat. Ada golongan raja dan keturunannya, para bangsawan dan rakyat sebagai kawula kerajaan. Kehidupan masyarakat bersifat feodal karena raja adalah pemilik seluruh tanah dan segala isinya. Sultan dikenal sebagai panatagama, yaitu pengatur agama, sehingga sultan memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Rakyat sangat hormat dan patuh, serta hidup mengabdi kepada sultan.

Bidang kebudayaan juga memiliki kemajuan yang sangat pesat. Seni bangunan, ukir, lukis, dan patung mengalami perkembangan. Kreasi-kreasi para seniman terlihat pada pembuatan gapura serta ukiran di istana dan tempat ibadah. Seni tari yang terkenal adalah Tari Bedoyo Ketawang. Sultan Agung memadukan unsur-unsur budaya Islam dengan budaya Hindu-Jawa. 

Mataram mengalami kemunduran apalagi adanya pengaruh VOC yang semakin kuat. Dalam perkembangannya Kerajaan Mataram akhirnya dibagi dua berdasarkan Perjanjian Giyanti (1755).


Referensi: 

Gunawan, Restu. 2016. Sejarah Indonesia. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan. 

Jangan lupa isi link berikut sebagai presensi https://bit.ly/PemerintahanSultanAgung atau scan QR Code berikut!



Comments

Popular posts from this blog

Mobilisasi Massa pada Masa Pendudukan Jepang (Kumiai dan Kebijakan Wajib Padi)

Materi Teks Berita

Hasil Telaah Video Pembelajaran Berdiferensiasi