Gelombang menjelang Proklamasi


Selama Juli dan Agustus, perbedaan sikap antara para pemimpin yang lebih tua dan golongan muda terus berkembang. Perbedaan ini terutama berkisar pada persoalan kemerdekaan seharusnya diperoleh tanpa atau dengan "pemberian" Jepang. Hal ini semakin menajam mendekati minggu-minggu pertama Agustus 1945. Golongan tua memiliki tokoh utama yaitu Soekarno-Hatta yang didukung oleh Achmad Soebarjo, Haji Agus Salim, dan tokoh-tokoh dalam PPKI mengetahui bahwa pada akhirnya penyerahan kekuasaan secara teratur dari tangan Jepang kepada orang Indonesia hanya tinggal menunggu waktu. 

Pusat perhatian bergeser dari susasana menghadapi perang kepada keadaan pascaperangdan menyambut persiapan menuju negara Indonesia yang merdeka. Dalam suasana ketidakpastian ini, prestige Sutan Syahrir menanjak dengan cepat di mata para kalangan pemuda yang memiliki aliran berbeda. Syahrir merupakan politikus yang berpengalaman, yang menggalang gerakan bawah tanah selama masa pendudukan Jepang, perhitungan Syahrir lebih bersifat taktis dan menjadi arus utama dalam gerakan pemuda menentang kekuasaan Jepang. 

Pandangan Syahrir sesuai dan didukung oleh kalangan muda yang menuntut diadakannya suatu tindakan nyata. Seperti halnya golongan pemimpin yang lebih tua, mereka memandang bahwa kapitulasi Jepang sudah pasti akan terjadi dan hanya tinggal soal waktu. Akan tetapi mereka berbeda dalam sikap atau cara menanggapi situasi yang berubah dengan cepat. 

Perbedaan itu segera mencuat ke permukaan ketika di Jakarta berkembang desas-desus tentang pengeboman atas dua kota di Jepang (Hirosima dan Nagasaki) oleh Amerika Serikat pada 7 dan 9 Agustus 1945, disusul dengan kapitulasi Jepang beberapa hari kemudian, tepatnya 14 Agustus 1945. Peristiwa dramatis ini merupakan pukulan hebat bagi kelompok pemimpin yang lebih tua karena semua itu telah mengacaukan rencana kemerdekaan yang telah dipersiapkan. Satu-satunya jalan yang terbuka bagi mereka adalah mempercepat rencana persiapan kemerdekaan dengan meminta persetujuan Jepang secara diam-diam. 

Sementara itu, pemikiran kelompokmuda tentang jalan kedepan sama sekali tidak jelas, dalam arti bahwa bagi mereka yang terpenting ialah harus bertindak secepatnya yakni memproklamasikan kemerdekaan tanpa keterlibatan Jepang sama sekali, sedang mengenai segala sesuatu mengenai formalitas adalah urusan kemudian. 

Comments

Popular posts from this blog

Mobilisasi Massa pada Masa Pendudukan Jepang (Kumiai dan Kebijakan Wajib Padi)

Materi Teks Berita

Hasil Telaah Video Pembelajaran Berdiferensiasi