Menyerahnya Belanda kepada Jepang
Pada 10 Mei 1940, Hitler menyerbu Negeri Belanda. Pemerintah Belanda terpaksa melarikan diri ke London. Ketegangan timbul karena gejolak Eropa sangat menggelisahkan orang-orang Belanda di Hindia Belanda sejak pertengahan tahun 1939, terlebih lagi adanya kabar didudukinya Belanda oleh Jerman. Sementara itu, para pemimpin Indonesia dalan Volksraad terus berharap agar memperoleh konsesi dari Belanda, namun asal-usul dan mosi dimentahkan dari jawaban yang samar dari Gubernur Jenderal van Starkenborg. Penguasa kolonial terus berupaya menutupi berita bahwa Belanda telah diduduki oleh Jerman.
Tahun 1940, konsulat Jepang di Batavia mengajukan tuntutan agar Hindia Belanda memperbesar kuota ekspor minyak buminya. Tuntutan ini tidak mungkin dipenuhi oleh pemerintah Hindia Belanda. Pada bulan Januari 1941, Jepang kembali mengirimkan delegasi setelah sebelumnya mengalami kegagalan, namun dalam perundingan ini juga mengalami jalan buntu. Pada 27 Juli 1941, Amerika Serikat memutuskan hubungan ekonomi dengan Jepang sebagai akibat dari pendudukan Jepang di Indocina.
Invasi Jepang ke Indonesia diawali dengan serangan udara yang diikuti dengan pendaratan pasukan. Dua pangkalan yang dijadikan pijakan dalam melancarkan serangan udara adalah Pangkalan Davao di Filipina dan kapal-kapal induk di Laut Cina Selatan. Serangan pertama dimulai dari Davao pada 10 Januari 1942, sehari setelah Jepang menyatakan perang terhadap Belanda. Sasarannya adalah Tarakan yang menguasai instalasi minyak di kota itu. Pada 11 Januari 1942, pasukan Jepang melakukan pendaratan. Pada 24 Januari 1942, Balikpapan diduduki Jepang. Lima hari setelah Balikpapan dikuasai Jepang melanjutkan serangan ke Pontianak, dan pada tanggal 3 Februari 1942 ke Samarinda.
Paukan Jepang Kolonel Tonishori Shoji yang mendarat di Eretan, langsung bergerak ke Subang dan lapangan terbang Kalijati. Belanda berusaha merebut lapangan terbang Kalijati kembali. Tiga kali pasukan Belanda melancarakan serangan untuk merebut kembali Kalijati, namun semuanya gagal. Jenderal Imamura menolak penyerahan lokal dan menuntut penyerahan tanpa syarat dan menyeluruh. Jika tuntutan ini tidak dipenuhi, kota Bandung akan di bom dari udara.
Comments
Post a Comment