Candi Agung Borobudur Difokuskan sebagai Tempat Ibadah bagi Umat Budha

 


Kami mengikuti kegiatan Talkshow yang diselenggarakan panitia setelah mengikuti prosesi Dhutanga pada Pabajja Samanera tahun 2022 di Candi Agung Borobudur. Talkshow ini diisi oleh Bhante yang berasal dari Thailand dan didampingi oleh dua penerjemah serta moderator dari pihak panitia Pabajja Samanera 2022. Dalam talkshow ini banyak hal menarik yang dibahas baik itu tentang penjelasan mengenai ajaran Budha dan juga pentingnya Candi Agung Borobudur. Candi Agung Borobudur merupakan candi yang dibangun oleh Samaratungga pada abad 9 M pada masa Dinasti Syailendra (Kerajaan Mataram Kuno). Namun sejak Kerajaan Mataram Kuno memindahkan pusat pemerintahannya di Jawa Timur karena adanya bencana alam, pembahasan tentang Candi Borobudur di masa setelah itu seakan menghilang. Setelah berabad-abad Candi Borobudur dapat ditemukan kembali pada abad 19 M, pada masa pemerintahan Inggris di Indonesia dengan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles. Pada waktu itu, Candi Borobudur di ekskavasi dan disusun kembali seperti bentuk aslinya dengan peralatan yang ada. Baru pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, Candi Borobudur dipugar dengan alat yang modern. 

Candi Borobudur pada masa Dinasti Syailendra dibangun dengan tujuan sebagai tempat ibadah. Hal ini didukung dengan adanya konsep dewa raja yang berkembang pada masa Hindu-Budha pada saat itu. Dimana raja dianggap sebagai titisan dewa. Candi Borobudur adalah peninggalan yang luar biasa, sehingga kita harus menjaganya. Bagaimana cara kita menjaganya? Setelah bertahun-tahun Candi Borobudur difungsikan sebagai tempat wisata, ternyata dapat membuat umur bangunan candi menjadi lebih pendek. Hal ini disebabkan karena interaksi antara bangunan candi dengan perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab (vandalisme) dapat merusak batu-batu candi. Oleh karena itu Candi Borobudur saat ini akan difokuskan sebagai tempat ibadah bagi umat Budha baik sebagai tempat meditasi, pradaksina, dan ibadah lainnya. 

Candi Borobudur masih difungsikan sebagai tempat wisata, hanya saja pengunjung tidak diperbolehkan untuk naik ke candi dan berselfi disana. Pengunjung hanya dapat menikmati candi dan berfoto dari pelataran candi saja. Hal ini dilakukan oleh pengelola candi supaya Candi Borobudur dapat bertahan lebih lama, dan dapat diwariskan kepada anak cucu kita, serta mengurangi terjadinya vandalisme. Berdasarkan talkshow tersebut kami sebagai lulusan pendidikan sejarah mengambil kesimpulan bahwa, kami sebagai generasi muda bahwa kita harus bangga dengan warisan budaya dan kita dapat menunjukkan kebanggaan kita dengan turut serta menjaga kelestarian warisan budaya dan tidak melakukan vandalisme serta selalu menjaga kebersihan lingkungan warisan budaya.

Comments

Popular posts from this blog

Mobilisasi Massa pada Masa Pendudukan Jepang (Kumiai dan Kebijakan Wajib Padi)

Hasil Telaah Video Pembelajaran Berdiferensiasi