Menjelang Jatuhnya Rezim Kolonial
Dinamika politik pergerakan terlihat stabil dan sepi dari hiruk pikuk pergerakan. Namun di bawah permukaan berbagai kekuatan masyarakat tetap bergejolak mencari ruang geraknya masing-masing. Tindakan pemerintah kolonial yang menindas rakyat selama tahun 1930-an sedikit banyak berhasil menanam kegiatan politik kaum nasionalis radikal sehingga mereka tidak lagi memiliki celah untuk mengerahkan dukungan massa secara terbuka.
Pada bulan September 1936, Mr. A.W.L. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer diangkat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang baru, menggantikan Mr. B.C. de Jonge. Banyak sumber yang mengatakan bahwa Gubernur Jenderal yang baru itu akan menghadapi banyak persoalan karena kebijakannnya terhadap kaum nasionalis sama buruknya dengan pendahulunya. Unsur-unsur kolonial di Den Haag maupun di Batavia meragukan kemampuannya untuk mengendalikan negeri jajahan yang demikian luas karena adanya beberapa fakta-fakta yang tidak bisa dibantah. Pertama, Gubernur Jenderal van Starkenborgh dinilai tidak mengenal wilayah Hindia Belanda. Kedua, Gubernur Jenderal van Starkenborgh terlalu muda. Dia diangkat menjadi Gubernur Jenderal pada usia 48 tahun.
Dalam beberapa tahun pemerintahannya (1936-1942), Gubernur Jenderal van Starkenborgh dianggap berhasil memulihkan ekonomi Hindia Belanda dari keterpurukan akibat depresi 1930. Dalam masa pemerintahannya, perkembangan pesat mulai terjadi. Ekspor impor mulai bangkit, terutama pada sektor perkebunan, khususnya karet. Hasil ekonomi yang ditempuhnya dikenal dengan kebijakan "kupon karet". Kebijakan tersebut mendorong laju ekspor impor dan mampu menarik modal dari luar, seperti dari Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang.
Referensi:
Abdullah, Taufik. 2012. Indonesia dalam Arus Sejarah Jilid 6 Perang dan Revolusi. Bandung: PT Ichtiar Baru van Hoeve.
Comments
Post a Comment