Asal-usul Desa Bantir
(Menelusuri Jejak Mbah Tirto Kusumo Sang Prajurit Sakti Sebagai Kunci Toponimi)

       Bantir merupakan salah satu nama desa yang terletak di Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Desa ini memiliki keistimewaan dalam bidang kuliner berupa cemilan khas yang dapat digunakan sebagai teman makan yang terkenal dengan nama krupuk Bantir. Namun asal-usul Desa Bantir juga tidak kalah istimewanya dengan krupuk khas ini.
        Asal-usul Desa Bantir dimulai dengan datangnya dua prajurit yang bernama Suro Wilogo dan Tirto Kusumo. Namun belum diketahui secara jelas dari mana mereka berasal. Ada dua pendapat yang menyatakan dari mana asal mereka. Pertama, dimungkinkan mereka merupakan prajurit yang sedang dalam pelarian pada masa Kerajaan Majapahit akibat dari keruntuhan Kerajaan Majapahit pada tahun yang disebut dengan Sirna Ilang Kertaning Bhumi atau tahun 1400 S. Pendukung pernyataan ini, yaitu adanya peninggalan bercorak Hindu khas Majapahit yang terlihat dari gapura di daerah Jumprit, Kecamatan Ngadirejo. Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang Majapahit yang sedang dalam pelarian telah sampai di daerah ini pada waktu itu.
          Kedua prajurit ini berasal dari Kerajaan Mataram Islam yang akhirnya terbagi menjadi dua akibat dari adanya Perjanjian Giyanti. Perjanjian yang diadakan di desa Giyanti dekat Salatiga itu, berisi tentang pembagian wilayah Kerajaan Mataram. Dimana kemudian Kerajaan Mataram dibagi menjadi dua yaitu Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Hal ini mendukung pendapat yang mengatakan bahwa prajurit yang bernama Suro Wilogo berasal dari Solo dan Tirto Kusumo berasal dari Yogyakarta. Namun juga belum dapat dipastikan alasan apa yang membuat mereka melakukan pelarian. Apakah adanya pemberontakan sebagai akibat dari adanya Perjanjian Ponorogo itu, yang membuat mereka melakukan pelarian ke daerah yang akhirnya dikenal sebagai Desa Bantir ini. Ataukah mereka melakukan pelarian pasca Perjanjian Giyanti? Akan tetapi ada sumber yang mengatakan bahwa setelah Perjanjian Giyanti dilakukan tidak ada perang besar yang terjadi di Jawa, sampai akhirnya meletuslah Perang Diponegoro pada tahun 1825-1830. Untuk mengetahui secara gamblang tentang bagaimana kedua prajurit ini sampai ke Desa Bantir masih perlu dilakukan riset.
           Namun pada kenyatannya kedua prajurit yang bernama Suro Wilogo dan Tirta Kusumo telah sampai ke daerah yang akhirnya diberi nama Bantir ini. Sampai akhirnya mereka melakukan babad alas di daerah tersebut yang pada waktu itu masih berupa hutan belantara. Sekarang daerah babad alas tersebut menjadi desa-desa yang dijadikan tempat tinggal oleh masyarakat. Jika dibandingkan dengan saat ini luas daerah babad alas tersebut, meliputi beberapa desa dan juga dusun yaitu seluruh wilayah Desa Bantir (sekarang), Desa Klombeyan (bagian Selatan), Desa Ngabeyan (bagian Utara Desa Bantir) dan Dusun Tegong. Setelah babad alas selesai, pembangunan rumah mulai dilakukan. Seketika itu pula daerah ini mulai diminati oleh para warga untuk dijadikan tempat tinggal. Rumah pertama yang dibangun saat itu, sekarang menjadi tempat tinggal keluarga Bapak Sucipto yang terletak di RT 02/RW 04, Desa Bantir. Sebagian wilayah dari babad alas tersebut juga digunakan sebagai area persawahan dan hal lain yang mendukung kebutuhan hidup masyarakat pada waktu itu.
            Tirto Kusumo kemudian dikenal dengan nama Mbah Tirto Kusumo. Pada saat itu setiap warga yang sedang dalam pergumulan dan mengalami kesusahan berbondong-bondong menemui Mbah Tirto Kusumo untuk meminta tolong. Kemudian sebagai solusi dari masalah yang dikeluhkan, diberikanlah air oleh Mbah Tirto Kusumo. Kesaktian Mbah Tirto Kusumo yang terpancar dari air yang diberikannya terbukti dapat mengatasi setiap masalah yang dihadapi warga. Sampai akhirnya berita ini disebarluaskan dan menjadikan nama Mbah Tirto Kusumo banyak dikenal oleh masyarakat luas. Nama Mbah Tirto Kusumo yang sudah kondang itu, akhirnya lebih dikenal dengan nama Mbah Tir. Hal ini didukung oleh cerita yang menyebutkan bahwa setiap warga yang pergi untuk mendapatkan solusi dari Mbah Tirto Kusumo, ketika ditanya “Dari mana?” selalu menjawab “Dari rumah Mbah Tir.” Nama Tirto Kusumo sendiri memiliki makna yang dalam, dimana Tirto berarti “Air” dan Kusumo yang artinya “Ratu”. Darisinilah nama Desa Bantir bermula. Dengan demikian untuk menghormati dan menghargai pengabdian Mbah Tirto Kusumo yang banyak berjasa bagi masyarakat, maka daerah ini dinamakan Desa Bantir. Peristiwa inilah yang melatarbelakangi berdirinya Desa Bantir sampai saat ini.

Comments

  1. Lalu setelah suro wilogo dan Tirto kusuma meninggal apakah juga dimakamkan di desa Bantir?

    ReplyDelete
  2. Apakah hubungan antara Suro Wilogo dan Tirto Kusumo sehingga mereka mampu bersama sama membangun desa bantir tersebut?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Diperkirakan mereka adalah pasukan yang melarikan diri dan mencari daerah untuk hidup. Jadi hubungannya mereka ada sama-sama prajurit

      Delete
  3. Apakah hubungan antara Suro Wilogo dan Tirto Kusumo sehingga mereka mampu bersama sama membangun desa bantir tersebut?

    ReplyDelete
  4. Apa yang dimaksud dengan sirna ilang kertaning bhumi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini sudah pernah dibahas di kelas saya bahkan berkali-kali ya Mbk?

      Delete
  5. Apa isi dari perjanjian ponorogo sendiri???

    ReplyDelete
  6. Replies
    1. Baca buku di LKS tentang Kerajaan Mataram Islam setelah kepemimpinan Sultan Agung mbk

      Delete
  7. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  8. Apakah jabatan (kedudukan) Suro Wilogo dan Tirto Kusuma di dalam desa Bantir yang mereka bangun bersama sama tersebut? Dan dengan konsep atau aturan seperti apakah yang mereka gunakan untuk membentuk dan membagi wilayah Desa Bantir menjadi beberapa RT?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jabatan mereka? Sama dengan masyarakat lain. Hanya saja karena mereka dianggap punya kekuatan lebih jadi di hormati. Pembagian RT dan desa baru ada masa pemerintahan kolonial Belanda dan Jepang ya. Seperti yang sudah kita pelajari

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Mobilisasi Massa pada Masa Pendudukan Jepang (Kumiai dan Kebijakan Wajib Padi)

Materi Teks Berita

Hasil Telaah Video Pembelajaran Berdiferensiasi